Leena yang menanyakan cara membuat gigi-gigi gergaji segera dijawab Lynx dengan menunjukkan pahat yang sudah dibuatnya terlebih dahulu. "Kita gunakan ini. Potong sedikit demi sedikit sepanjang bilah, beri sudut pada setiap gigi. Hadan, coba kau lakukan."

Hadan mengambil pahat itu dengan hati-hati. "Seperti ini?" tanyanya sambil mulai memotong ujung bilah.

"Ya," jawab Lynx sambil mengawasi. "Pastikan setiap gigi memiliki sudut tajam. Ini akan menentukan seberapa efisien gergaji kita."

Setelah beberapa jam, bilah itu selesai. Gigi-giginya tajam dan teratur. Lynx kemudian memotong sebatang kayu keras untuk membuat gagang. "Potong kayu ini seperti yang kucontohkan," katanya kepada Hadan.

Dengan bantuan Lynx, Hadan membentuk gagang kayu, membuatnya nyaman digenggam. Lynx lalu memasang bilah itu ke gagang menggunakan pasak kayu yang kuat.

"Cobalah," kata Lynx, menyerahkan gergaji itu kepada Karim.

Karim membawa gergaji itu ke batang pohon kecil di dekatnya. Dengan beberapa tarikan, gergaji itu memotong kayu dengan mudah. "Luar biasa!" serunya dengan senyum lebar. "Ini jauh lebih cepat!"

Leena tertawa kecil. "Dengan alat ini, kita bisa membuat berbagai bentuk bangunan dan pagar dengan cepat."

"Sekarang kita butuh alat lain," kata Lynx, kembali ke meja kerja. "Cangkul, Ganco dan sekop untuk menggali tanah, serta kapak untuk membelah kayu."

"Bagaimana cara membuatnya?" tanya Leena.

Lynx mengambil sebatang besi lain. "Cangkul akan seperti ini," katanya sambil menggambar di tanah. Ia membuat bentuk persegi panjang dengan ujung melengkung. "Sekop sedikit lebih besar, dengan sisi yang lebih tajam untuk menggali tanah keras. Sedangkan Kapak memiliki bentuk seperti ini."

Hadan mengangguk. "Aku bisa membentuknya seperti tadi?"

"Kau bisa coba," jawab Lynx sambil menyerahkan batang besi. "Mulailah dengan memanaskannya."

Proses pembuatan cangkul, kapak, ganco dan sekop mirip dengan gergaji. Setelah besi selesai dibentuk, mereka memasangnya ke gagang kayu yang telah diukir sebelumnya. Karim mencoba cangkul itu di tanah keras, dan tanah itu terbelah dengan mudah.

"Ini sempurna," katanya sambil mengayunkan cangkul itu lagi. "Kita bisa menggali parit lebih cepat dengan ini."

Leena juga mengambil ganco yang sudah jadi, mengujinya pada batang kayu besar. Dengan sekali tarikan, kayu itu bergerak. "Ini hebat!" katanya, tersenyum puas.

Setelah selesai membuat peralatan, Lynx mengumpulkan semua warga. "Kita sudah membuat berbagai alat untuk mempermudah mengolah kayu. Setelah ini kita akan mulai lebih kerja ekstra untuk membuat perkampungan yang kuat dan aman" Kata Lynx.

"Kita mulai dengan pagar," katanya melanjutkan. Ia lalu berdiri di tengah lapangan terbuka yang akan menjadi pusat kampung. "Pagar ini harus lebih kuat dari yang sebelumnya. Gunakan kayu yang paling keras. Setiap ujungnya diruncingkan. Jika ada celah, kita tutupi dengan jebakan."

Beberapa pria mulai bekerja memotong kayu besar, sementara yang lain menggali lubang di sekitar perbatasan untuk memasang pagar runcing. Mereka merasa takjub dengan alat-alat yang dibuat oleh Lynx, karena pekerjaan mereka menjadi jauh lebih mudah. Lynx sendiri menunjukkan cara menajamkan kayu dengan cepat menggunakan parang buatannya.

"Kayu ini harus cukup tajam untuk menembus kulit," kata Lynx, memeriksa sebuah pagar yang baru selesai. Ia menunjukkannya kepada Hadan. "Lihat ini. Jika kau menajamkannya seperti ini, satu serangan bisa menghentikan musuh."

"Hebat, Lynx," kata Hadan sambil mengangguk. "pagar ini benar-benar tajam dan bisa menjadi senjata yang ampuh."

"Setiap bagian dari perkampungan ini harus menjadi pertahanan," jawab Lynx. "Tidak ada ruang untuk kesalahan."

Sementara itu, Leena memimpin kelompok lain menuju tambang baja besi. Mereka membawa peralatan seadanya, mulai dari cangkul, ganco, sekop hingga ember kayu untuk membawa pecahan bijih besi. Lynx memberikan instruksi yang ketat sebelum mereka pergi.

"Jangan masuk terlalu dalam ke tambang," kata Lynx dengan nada serius. "Aku tahu kalian ingin mengambil sebanyak mungkin, tapi gua itu berbahaya. Struktur di dalamnya tidak stabil. Kalau kalian terlalu jauh, langit-langit bisa runtuh kapan saja."

Leena menatapnya dan mengangguk. "Aku mengerti. Aku akan memastikan mereka tetap di area aman."

"Bagus," jawab Lynx. "Kalau ada yang mencoba melanggar, tarik mereka keluar. Ini bukan tempat untuk bermain-main."

Leena memimpin timnya dengan hati-hati. Mereka menggali dengan melanjutkan bekas galian yang sudah pernah ada sebelumnya, mengambil memilih potongan bijih besi yang mudah dijangkau. Dengan arahan Lynx, mereka tambah bersemangat mempelajari cara memproses bijih itu agar bisa menjadi bahan yang dapat digunakan untuk membuat senjata dan peralatan.

Beberapa minggu kemudian, perkampungan baru mulai terbentuk. Pagar runcing yang mengelilingi area itu berdiri kokoh, jebakan dipasang di setiap sudut yang strategis, dan sebuah menara pengawas kecil dibangun dari kayu di tepi perkampungan untuk memantau wilayah sekitar.

"Kita butuh senjata," kata Lynx kepada sekelompok pria yang sedang bekerja. "Tombak, parang, apa pun yang bisa kita gunakan untuk melindungi tempat ini. Tapi ingat, kualitas lebih penting daripada kuantitas. Jangan buru-buru."

Di tengah semua kesibukan itu, Leena tetap menjadi orang yang paling dipercaya Lynx. Ia membantu mengawasi tambang, memastikan bahwa penduduk tidak masuk terlalu dalam. Tapi suatu hari, salah satu pemuda, tertarik oleh kilauan bijih besi di dalam gua, mencoba melanggar aturan.

Leena menariknya kembali dengan cepat, matanya penuh kemarahan. "Apa yang kau pikirkan? Lynx sudah memperingatkan kita!"

"Aku hanya ingin melihat," jawab pemuda itu dengan nada malu-malu.

"Kalau kau ingin hidup, kau akan mengikuti perintah," kata Leena tegas. "Ini bukan tempat untuk bermain-main."

Ketika Lynx mendengar laporan itu, ia mendatangi Leena. "Kau melakukannya dengan baik," katanya sambil tersenyum kecil. "Aku tahu aku bisa mengandalkanmu."

"Ini hanya tugas kecil," balas Leena sambil tersenyum, meskipun matanya memancarkan kebanggaan.

Di malam hari, Lynx berdiri di menara pengawas, memandang ke arah tambang dan perkampungan yang mulai terbentuk. Angin malam membawa suara kayu yang dipotong dan api yang menyala di tungku pertama mereka.

Leena bergabung dengannya, membawa sebuah wadah air. "Semua orang bekerja keras," katanya. "Mereka mulai percaya bahwa tempat ini bisa menjadi rumah yang aman."

"Karena itu yang harus kita lakukan," balas Lynx sambil memandang ke arah hutan gelap di kejauhan. "Tapi Monrest tidak akan berhenti. Kita harus siap kapan saja."

"Kau yakin kita bisa menang?" tanya Leena dengan nada lembut, matanya penuh kekhawatiran.

Lynx menatapnya dan tersenyum kecil. "Aku tidak tahu. Tapi aku tahu satu hal—kita akan bertarung sampai akhir."

"Apa rencanamu selanjutnya Lynx? Apakah kita hanya bertahan disini?" Tanya Leena lagi dengan ragu-ragu.

Lynx memahami maksud pertanyaan Leena, "Kita akan memastikan orang-orang ini aman terlebih dahulu, setelah itu aku akan mendatangi suku-suku lainnya dan mengajak mereka bekerjasama untuk melawan suku Monrest. Mereka terlalu banyak, kita tidak akan sanggup menghadapinya tanpa bantuan dari yang lain."

Leena mengangguk, percaya pada tekad Lynx yang tidak tergoyahkan. Leena yakin, dengan kekuatan dan kemampuan Lynx, masih ada harapan untuk mereka bisa kembali ke dunia asli mereka bertemu keluarga.

Leena dapat melihat, perkampungan mereka mungkin masih dalam proses, tapi harapan untuk masa depan mulai tumbuh. Di pulau asing ini, Lynx pasti mampu menunjukkan kemampuannya sehingga dapat menyelamatkan seluruh orang-orang dipulau ini.

Di sisi lain pulau, di markas Monrest, sisa pasukan yang melarikan diri dari pertempuran telah melapor kepada para pemimpin mereka. Damon, pemimpin tertinggi Monrest, duduk di singgasana batu besar, mendengarkan dengan wajah gelap.

"Pemimpin mereka sangat kuat," kata salah satu prajurit yang selamat. "Seorang diri dia mampu mengalahkan semua makhluk mutasi dan para pimpinan. Mereka bahkan memiliki jebakan sehingga pasukan kita banyak yang tewas."

"Kuat?" Damon menatap prajurit itu dengan tajam. "Kalian melarikan diri karena takut pada mereka. Revan mati karena kekalahannya sendiri, tapi kalian... kalian lebih memalukan."

"Maafkan kami, Tuan," prajurit itu menunduk ketakutan. "Tapi kami menemukan sesuatu. Pemimpin mereka, Lynx... dia memiliki kekuatan yang aneh. Panas, seperti api. Tapi itu bisa dihentikan jika kita membawa monster yang tahan terhadap api."

Damon terdiam sejenak, lalu berdiri perlahan. Tubuhnya yang besar dan penuh otot membuat ruangan terasa lebih sempit. "Kalau begitu, kita akan memberikan mereka sesuatu yang tidak bisa mereka lawan."

Ia menoleh ke arah salah satu pemimpin pasukan lainnya, Ruvan, yang dikenal sebagai ahli strategi Monrest sekaligus saudara kembar Revan. "Bawa pasukan terkuatmu, dan bawa monster yang tahan api. Lynx harus mati."

"Baik, Tuan," jawab Ruvan dengan anggukan dalam. Ia segera meninggalkan ruangan, membawa perintah Damon kepada pasukannya.

Beberapa hari kemudian, pasukan Monrest yang dipimpin oleh Ruvan tiba di perkampungan Sinto. Mereka membawa monster besar dengan kulit seperti batu vulkanik, yang tubuhnya memancarkan panas dari dalam. Pasukan itu berjumlah puluhan, dengan senjata lengkap.

Namun, saat mereka tiba di lokasi yang seharusnya menjadi perkampungan Sinto, yang mereka temukan hanyalah bekas-bekas perkemahan yang kosong. Pagar masih berdiri, tetapi tidak ada tanda-tanda kehidupan.

"Mereka sudah pergi," gumam salah satu prajurit Monrest.

"Pengecut," desis Ruvan. "Mereka tahu mereka tidak bisa menang, jadi mereka lari. Cari jejak mereka!"

"Tunggu," kata salah satu pemimpin pasukan yang lain. "Ini dekat dengan waktu persembahan rutin."

Ruvan menatapnya dengan tajam. "Kamu benar, kita harus kembali untuk persembahan ini. Setelah itu kita akan kembali mencari mereka untuk membuat perhitungan"

Di markas Monrest, Damon mendengar laporan tentang perkampungan kosong itu dengan ekspresi tidak terbaca. Ia duduk diam sejenak, lalu mengangguk perlahan.

"Jika mereka lari, itu hanya berarti satu hal," katanya, suaranya rendah tapi penuh otoritas. "Mereka tahu kita lebih kuat. Tapi ini tidak akan selesai sampai mereka mati."

Ia berdiri, menatap pasukannya yang berkumpul. "Kita akan menyelesaikan upacara persembahan rutin terlebih dahulu. Setelah itu, kalian pimpin pasukan untuk menemukan Lynx dan membunuhnya."

Teriakan semangat dari prajurit Monrest menggema di ruangan, tapi wajah Damon tetap dingin. Ia tahu, Lynx bukan musuh yang mudah. Tapi ia juga tahu, kekuatan Monrest belum sepenuhnya dikeluarkan.


